Ads 468x60px

Labels

Sample text

Sample Text

Senin, 07 April 2014

KERAJAAN KUTAI KARTANEGARA

Kerajaan Kutai islam dikenal juga dengan kerajaan Kertanegara ing Martadipura yang berdiri setelah peperangan besar dengan kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman kira-kira tahun 1605 M, dengan terjadinya peprangan tersebut penyatuan antara kedua kerajaan tersebut terjadi setelah kerajaan Kutai Martapura mengalami kekalahan. Kerajaan ini berdiri pada awal abad ke-13 di tepian batu atau Kutai lama, yaitu daerah yang dekat dengan Samarinda sekarang, pemilihan lokasi ini lebih disebabkan karena kutai lama adalah sebuah daerah yang dilalui oleh sungai Mahakam yang juga berfungsi sebagai jalur perdagangan serta terkenal akan kesuburan tanah yang cocok untuk iklim pertanian. Dengan rajanya yang pertama yaitu Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325) (Soetoen 1975 : 57).
 Kedaton_kutai_kartanegara
Kedaton Kutai Kartanegara
Meninjau ulang kerajaan Kutai Mulawarman (Martadipura) didirikan oleh pembesar kerajaan Campa (Kamboja) bernama Kudungga, yang selanjutnya menurunkan Raja Asmawarman, Raja Mulawarman, sampai 27 (dua puluh tujuh) generasi Kerajaan Kutai Mulawarman yaitu sebagai berikut: Kudungga, Asmawarman, Mulawarman, Sri Warman, Mara Wijaya Warman, Gayayana Warman, Wijaya Tungga Warman, Jaya Naga Warman, Nala Singa Warman, Nala Perana Warmana Dewa, Galingga Warman Dewa, Indara Warman Dewa, Sangga Wirama Dewa, Singa Wargala Warmana Dewa, Candra Warmana, Prabu Mulia Tungga Dewa, Nala Indra Dewa, Indra Mulia Warmana Tungga, Srilangka Dewa, Guna Perana Tungga, Wijaya Warman, Indra Mulia, Sri Aji Dewa, Mulia Putera, Nala Pendita, Indra Paruta Dewa, dan Darma Setia.
Sementara itu pada abad XIII di muara Sungai Mahakam berdiri Kerajaan bercorak Hindu Jawa yaitu Kerajaan Kutai Kertanegara yang didirikan oleh salah seorang pembesar dari Kerajaan Singasari yang bernama Raden Kusuma yang kemudian bergelar Aji Batara Agung Dewa Sakti dan beristerikan Putri Karang Melenu sehingga kemudian menurunkan putera bernama Aji Batara Agung Paduka Nira.
Proses asimilasi (penyatuan) dua kerajaan tersebut telah dimulai pada abad XIII dengan pelaksanaan kawin politik antara Aji Batara Agung Paduka Nira yang mempersunting Putri Indra Perwati Dewi yaitu seorang puteri dari Guna Perana Tungga salah satu Dinasti Raja Mulawarman (Martadipura), tetapi tidak berhasil menyatukan kedua kerajaan tersebut. Baru pada abad XVI melalui perang besar antara kerajaan Kutai Kertanegara pada masa pemerintahan Aji Pangeran Sinum Panji Ing dengan Kerajaan Kutai Mulawarman (Martadipura) pada masa pemerintahan Raja Darma Setia.
Dalam pertempuran tersebut Raja Darma Setia mengalami kekalahan dan gugur di tangan Raja Kutai Kertanegara Aji Pangeran Sinum Panji, yang kemudian berhasil menyatukan kedua kerajaan Kutai Tersebut sehingga wilayahnya menjadi sangat luas dan nama kerajaannyapun berubah menjadi Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martadipura yang kemudian menurunkan Dinasti Raja-raja Kutai Kertanegara sampai sekarang.
Menurut silsilah (Raja-raja dalam negeri) Kutai (Kertanegara), bahwa cikal bakal kerajaan Kutai Kertanegara ialah: Aji Batara agung Dewa Sakti, ditinjau dari segi mitosnya bahwa beliau turun dari langit dan memiliki kesaktian membawa sebuah telur dan sebuah keris yang bernama keris Burit Kang. Aji Batara Agung kawin dengan Putri Karang Melenu yang lahir dari buih Sungai Mahakam, dengan segala kebesaran duduk di atas gong yang di angkat oleh Lembu Suana yang berdiri di atas kepala naga besar. Tangan kanan memegang emas dan tangan kiri telur ayam.
Kita dapat mengetahui bahwa pada masa akhir kerajaan Kutai Martapura terjadi suatu pemberontakan-pemberontakan, baik yang dilakukan oleh keluarga raja sendiri maupun pihak luar disebabkan melemahnya keuatan dalam segala aspek pemerintahan seningga dinilai tidak lagi dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Jadi hal ini perlu suatu revisi, baik dari raja, sistemnya, serta mungkin agamanya yang menjadi anutan para penguasa raja Hindu-Buddha khususnya Kerajaan Kutai. Hal itu mungkin dapat memicu terjadinya suatu peperangan yang terjadi antara Kerajaan Kutai Martapura dan Kerajaan Kutai Kartanegara.
Pada masa ini kerajaan Kutai Kartanegara belum terjadi suatu perubahan yang sangat mencolok, artinya disaat pemerintahan Aji Batara Agung Dewa Sakti keadaan pemerintahan masih seperti raja kerajaan Kutai Martapura karna masih awal perkembangannya dan juga masih beragama Hindu cumin letak kerajaannya yang berbeda
F. Sistem Pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara
Dalam system ini Sultan/raja membawahi mangkubumi, jabatan yang biasanya dipegang oleh keluarga dekat raja/sultan misalnya paman. Tugas mangkubumi mewakili raja dalam sebuah acara apabila raja berhalangan hadir dan memangku jabatan raja untuk menggantikan kedudukan  putra mahkota apabila putra mahkota tersebut belum berumur 21 tahun dan ini tercantum dalam Undang-Undang pasal 9 (soeton 1975 : 54).
Kedudukan di bawah raja yang setara dengan Mangkubumi adalah majelis orang-orang besar arif dan bijaksana. Majelis berisi kaum bangsawan dan rakyat biasa yang mengerti adat-istiada Kutai, majelis ini bertugas membuat rancangan peraturan dan di ajukan pada raja. Apabila peraturan tersebut disetujui maka akan di berlakukan kepada seluruh rakyat Kutai Kartanegara ing Martadipura dan ini juga disebut “adat yang diadatkan”.
Menteri berkedudukan dibawah raja dan bertugas sebagai mediator antara raja dan mangkubumi dengan rakyat, punggawa, dan petinggi (Kepala Kampung). Menteri diangkat dari keluarga dekat raja atau keturunan bangsawan, kedudukan dan fungsi menteri diatur dalam Undang-Undang kerajaan yang dikenal dengann “Panji salaten”. Tugas dari menteri ini adalah menjalankan perintah raja dan mangkubumi, memberikan nasehat kepada raja ketika menjalankan hokum dan adat bersama senopati, dan punggawa agar hokum berjalan dengan baiak, menghukum gantung hulubalang dan senopati yang berkhianat pada kerajaan, menyelenggarakan kesejahteraan rakyat, dan menyanggah pendapat rakyat yang zalim dan berbuat sewenang-wenang.
Senopati kedudukannya berada di bawah menteri dan bertugas menjaga keamanan dan ketentraman kerajaan, menjalankan perintah raja, mangkubumi, menteri, dan pelaksana acara adat.
Punggawa merupakan ketua dalam sebuah perkampungan dan berada dibawah menteri dan sejajar dengan senopati, akan tetapi punggawa lah yang berhubungan langsung dengan rakyat jadi hubungannya dekat dengan meneri.
Sedangkan kedudukan paling bawah dalam pemerintahan adalah jabatan petinggi atau kepala kampung, dan diangkat berdasarkan jasa terhadap kerajaan dan berlaku pada kaum biasa, dan kedudukan berada di bawah punggawa, serta sebagai penyambung inspirasi rakyat untuk disampaikan kepada punggawa dan di atasnya.

G. Berakhirnya Kesultanan Kutai Kartanegara
Pada masa Aji Muhammad Parkesit (1920-1960). Pada masa selanjutnya, kekuasaan politik dan ekonomi Kesultanan secara berangsur-angsur dan sistematis dipangkas oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda dan Pendudukan Jepang melalui serangkaian perjanjian, pemberian hak monopoli dagang, maupun pemberian hak penarikan pajak dan cukai.  Demikian pula pada masa kemerdekaan RI, kedudukan Kutai Kartanegara turun tingkatannya atau hilang sama sekali, secara bertahap dari kesultanan menjadi Daerah Istimewa, lalu sebagai Daerah Swapraja, dan akhirnya sebagai Kabupaten dengan wilayah yang lebih sempit dari pada sebelumnya.Sultan beserta keturunan tak secara otomatis menjadi kepala pemerintahan yang turun-temurun.
Pada tanggal 27 Desember 1949, Dewan Kesultanan tergabung ke dalam Republik Indonesia Serikat. Lalu pada tahun 1953, Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai melalui UU Darurat No.3 Th.1953 menjadi daerah otonomi tingkat kabupaten.
Berdasarkan UU No. 27 tahun 1959 tentang “Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Kalimantan”, wilayah Daerah Istimewa Kutai dipecah menjadi 3 Daerah Tingkat II, yaitu:
1. Daerah Tingkat II Kutai dengan ibukota Tenggarong
2. Kotapraja Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
3. Kotapraja Samarinda dengan ibukota Samarinda.
Pada tanggal 20 Januari 1960, APT Pranoto selaku Gubernur Kalimantan Timur, atas nama Menteri Dalam Negeri melantik ketiga kepala Daerah Tingkat II, salah satunya adalah Aji Raden Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai. Sehari kemudian, 21 Januari 1960, bertempat di Balairung Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura di Tenggarong, diadakan Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai. Inti dari acara ini adalah serah terima pemerintahan dari Kepala Kepala Daerah Istimewa Kutai, Sultan Aji Muhammad Parikesit kepada Aji Raden Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai, Kapten Soedjono (Walikota Samarinda), dan A.R. Sayid Mohammad (Walikota Balikpapan). Dengan serah terima pemerintahan tersebut berarti Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dibawah Aji Sultan Muhammad Parikesit berakhir.
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan berakhirnya kekuasaan kerajaan Kutai Kertanegara, diantaranya yaitu:
  • Sedikit Sekali Adanya Usaha  Kerajaan untuk Mengadakan Integrasi dengan Masyarakat
Raja yang tadinya dihormati dan dijunjung tinggi oleh rakyat sebagai tempat mengadukan nasib malang dirinya, yang dianggap sebagai juru penyelamat dan menjamin kesejahteraan rakyat, namun tidak dapat berbuat apa-apa stelah mendapat tekanan dari pihak Kolonial Belanda. Padahal hasil yang diterima oleh kerajaan masih cukup besar.
Tetapi semua hasil yang diperoleh kerajaan, sepenuhnya hanya dipergunakan untuk menyelenggarakan kesejahteraan pribadi raja beserta seluruh keluarganya saja. Tiap-tiap tahun diadakan ramaian erau untuk menyanjung kemegahan keluarga raja-raja Kutai. Kenyataan tersebut terbanding terbalik dengan keadaan rakyat Kutai sendiri, dimana rakyat jelata tetap melarat dan nasibnya kurang diperhatikan. Kenyataan yang diterima oleh rakyat ini menimbulkan ketidaksenangan terhadap sultannya yang dianggap tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat dan tidak berniat untuk mengubah nasib rakyatnya.
  • Adanya Tuntutan yang gigih dari Rakyat Kutai Sendiri untuk Menhapuskan Swapraja
Faktor ini timbul akibat adanya perbedaan sosial yang mencolok, antara kehidupan raja serta keluarganya yang mewah di satu pihak, dan kehidupan rakyat yang melarat di lain pihak. Sehingga rakyat Kutai sendiri merasakan bahwa tidak ada gunanya menyongkong kelangsungan hidup kerajaan yang tidak membawa keuntungan apa-apa bagi rakyat. Selain itu, pada umumnya rakyat Kutai sendiri sangat bersimpati terhadap Republik Indonesia.
H. Dihidupkannya Kembali Kesultanan Kutai Kertanegara

Ada upaya kembali dari Bupati Kartanegara, Syaukani, Syaukani Hasan Rais, Untuk kembali menghidupkan Kesultana Kutai Kartanegara pada era reformasi. Upaya ini dimulai tepatnya pada tahun 1999. Upaya ini ditempuh dengan alas an untuk membangun pariwisata dan menjaga cagar budaya.
Upaya tersebut menunai hasil pada tahun 2001, ketika Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Abdurrahman Wahid mengizinkan dan mengakui pendirian kembali Kesultanan Kartanegara ing Martadipura yang ditandai dengan pengangkatan Putra Mahkota, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat diangkat sebagai sultan di Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan gelar sulatan Haji Aji Muhammad Salehuddin II.
Silsilah Sultan Kartanegara:
  • Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325)
  • Aji Batara Agung Paduka Nira (1325-1360)
  • Aji Maharaja Sultan (1360-1420)
  • Aji Raja Mandarsyah (1420-1475)
  • Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya (1475-1545)
  • Aji Raja Mahkota Mulia Alam (1545-1610)
  • Aji Dilanggar (1610-1635)
  • Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa ing Martapura (1635-1650)
  • Aji pangeran Dipati Agung ing Martapura (1650-1665)
  • Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma ing Martapura (1665-1686)
  • Aji Ragi Gelar Ratu Agung (1686-1700)
  • Aji Pangeran Dipati Tua (1700-1710)
  • Aji Pangeran Anum Panji Mendapa ing Martapura (1710-1735)
  • Aji Muhammad Idris (1735-1778)
  • Aji Muhammad Aliyeddin (1778-1780)
  • Aji Muhammad Muslihuddin (1780-1816)
  • Aji Muhammad Salehuddin (1816-1845)
  • Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899)
  • Aji Muhammad Alimuddin (1899-1910)
  • Aji Muhammad Parikesit (1920-1960)
  • Haji Aji Muhammad Salehuddin (1999-sekarang)
Dalam Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, gelar kebangsawanan yang digunakan oleh keluarga kerajaan adalah Aji. Gelar Aji diletakkan didepan nama anggota keluarga kerajaan. Dalam gelar kebangsawanan Kutai Kartanegara dikenal penggunaan gelar sebagai berikut:
  • Aji Sultan
    Digunakan untuk penyebutan nama Sultan bagi kerabat kerajaan
  • Aji Ratu
    Gelar yang diberikan bagi permaisuri Sultan
  • Aji Pangeran
    Gelar bagi putera Sultan.
  • Aji Puteri
    Gelar bagi puteri Sultan. Gelar Aji Puteri setara dengan Aji Pangeran.
  • Aji Raden
    Gelar yang setingkat diatas Aji Bambang.
Gelar ini diberikan oleh Sultan hanya kepada pria bangsawan Kutai yang sebelumnya menyandang gelar Aji Bambang.
  • Aji Bambang
    Gelar yang setingkat lebih tinggi dari Aji.
Gelar ini hanya dapat diberikan oleh Sultan kepada pria bangsawan Kutai yang sebelumnya menyandang gelar Aji saja.
  • Aji
    Gelar bagi keturunan bangsawan Kutai. Gelar Aji hanya dapat diturunkan oleh pria bangsawan Kutai.
Wanita Aji yang menikah dengan pria biasa tidak dapat menurunkan gelar Aji kepada anak-anaknya
Jika pria Aji menikah dengan wanita dari kalangan bangsawan Kutai sendiri atau dari kalangan rakyat biasa maupun suku lain, maka putra-putrinya berhak menyandang gelar Aji. Namun jika wanita Aji menikah dengan pria yang bukan keturunan bangsawan Kutai, maka putra-putrinya tidak dapat memperoleh gelar Aji, kecuali jika wanita Aji tersebut menikah dengan bangsawan keturunan Arab (Sayid).
Jika wanita Aji menikah dengan keturunan Arab (Sayid), maka putra-putrinya memperoleh gelar sebagai berikut:
  • Aji Sayid
    Gelar ini diturunkan kepada putera dari wanita Aji yang menikah dengan pria keturunan Arab.
  • Aji Syarifah
    Gelar ini diturunkan kepada puteri dari wanita Aji yang menikah dengan pria keturunan Arab.
Gelar Aji Sayid maupun Aji Syarifah tetap setara dengan gelar Aji biasa. Artinya gelar ini tetap dibawah Aji Bambang maupun Aji Raden.

KERAJAAN KUTAI

kerajaan kutai

Kerajaan Kutai (Kutai Martadipura) adalah kerajaan bercorak hindu yang terletak di muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu Sungai Mahakam. Kerajaan Kutai berdiri sekitar abad ke-4. Nama kerajaan ini disesuaikan dengan nama daerah tempat penemuan prasasti, yaitu daerah Kutai. Hal ini disebabkan, karena setiap prasasti yang ditemukan tidak ada yang menyebutkan nama dari kerajaan tersebut. Wilayah Kerajaan Kutai mencakup wilayah yang cukup luas, yaitu hampir menguasai seluruh wilayah Kalimantan Timur. Bahkan pada masa kejayaannya Kerajaan Kutai hampir manguasai sebagian wilayah Kalimantan.

a. Sumber Sejarah
   
     Sumber yang mengatakan bahwa di Kalimantan telah berdiri dan berkembang Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu adalah beberapa penemuan peninggalan berupa tulisan (prasasti). Tulisan itu ada pada tujuh tiang batu yang disebut yupa. Yupa tersebut adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tiang untuk menambat hewan yang akan dikorbankan. Dari salah satu yupa tersebut diketahui Raja Mulawarman yang memerintah Kerajaan Kutai pada saat itu. Nama Mulawarman dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi pada Kaum Brahmana.


b. Kehidupan Politik

     Sejak muncul dan berkembangnya pengaruh hindu (India) di Kalimantan Timur, terjadi perubahan dalam kepemerintahan, yaitu dari pemerintahan suku dengan kepala suku yang memerintah menjadi kerajaan dengan seorang raja sebagai kepala pemerintahan. Berikut beberapa raja yang pernah memerintah Kerajaan Kutai:

- Raja Kudungga
     Adalah raja pertama yang berkuasa di kerajaan kutai. Dapat kita lihat, nama raja tersebut masih menggunakan nama lokal sehingga para ahli berpendapat bahwa pada masa pemerintahan Raja Kudungga pengaruh Hindu baru masuk ke wilayahnya. Kedudukan Raja Kudungga pada awalnya adalah kepala suku. Dengan masuknya pengaruh Hindu, ia mengubah struktur pemerintahannya menjadi kerajaan dan mengangkat dirinya sebagai raja, sehingga penggantian raja dilakukan secara turun temurun.

- Raja Aswawarman
     Prasasti yupa menceritakan bahwa Raja Aswawarman adalah raja yang cakap dan kuat. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kutai diperluas lagi. Hal ini dibuktikan dengan dilakukannya Upacara Asmawedha pada masanya. Upacara-upacara ini pernah dilakukan di India pada masa pemerintahan Raja Samudragupta ketika ingin memperluas wilayahnya. Dalam upacara itu dilaksanakan pelepasan kuda dengan tujuan untuk menentukan batas kekuasaan Kerajaan Kutai ( ditentukan dengan tapak kaki kuda yang nampak pada tanah hingga tapak yang terakhir nampak disitulah batas kekuasaan Kerajaan Kutai ). Pelepasan kuda-kuda itu diikuti oleh prajurit Kerajaan Kutai.

-Raja Mulawarman
      Raja Mulawarman merupakan anak dari Raja Aswawarman yang menjadi penerusnya. Raja Mulawarman adalah raja terbesar dari Kerajaan Kutai. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Kutai mengalami masa kejayaannya. Rakyat-rakyatnya hidup tentram dan sejahtera hingga Raja Mulawarman mengadakan upacara kurban emas yang amat banyak.

c. Runtuhnya Kerajaan Kutai

          Kerajaan Kutai runtuh saat raja Kerajaan Kutai terakhir yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Kerajaan Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi Kerajaan Islam yang bernama Kesultanan Kutai Kartanegara.

Minggu, 06 April 2014

KELAPA INHIL

Indragiri hilir merupakan salah satu kabupaten di Riau yang memiliki potensi alam luar biasa. struktur tanah yang merupakan rawa dan gambut. sangat cocok untuk pertanian tanaman dataran rendah. salah satunya kelapa.

kelapa adalah usaha utama yang ada diinhil. hampir 60% penduduknya dalah petani kelapa. waaupun terkadang harga kelapa sering turun-naik. tapi masyarakat inhil tetap bertahan pada usaha kelapa.

kelapa termasuk usaha yang menjanjikan. karena hampir semua bagian kelapa dapat diolah menjadi barang konsumsi. seperti : minyak, nata de coco, sapu, gula aren dan jajanan lainnya. bupati indragiri hilir menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk menkonsumsi kelapa. jika konsumsi kelapa meningkat maka penghasilan petani kelapapun meningkat. sehingga dapat tercipta kesejahteraan.

bayangkan saja, jika tiap hari masyarakat menggunakan minyak kelapa. maka bayangkan berapa jumlah permintaan akan kelapa ?

selain dapat meningkatkan penghasilan. kelapa juga sehat untuk tubuh.minyak kelapa saja lebih baik dari pada minyak sayur dan lebih mudah dikonsumsi oleh tubuh. air kelapa pun bisa menghilangkan dehidrasi.

jangankan buahnya, daunnyapun dapat diulah menjadi produk bermanfaat seperti sapu. batok kelapa dapat diubah menjadi arang. sabutnyapun dapat diolah menjadi kain keset.

maka dari itu marilah kita mgnkonsumsi kelapa agar sehat dan masyakat dapat sejahteer

Sabtu, 05 April 2014

MENONGKAH

Tongkah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka 1999, Jakarta, Tongkah adalah papan untuk tumpuan (titian) biasanya dipasang ditempat becek atau basah. Oleh Komunitas Duanu (Orang Laut) Indragiri Hilir – Riau, Tongkah adalah salah satu alat bantu yang tergolong unik yang digunakan untuk mencari/menangkap kerang darah (Anadara Granosa) Tiangan dalam dialek Duanu. Sedangkan aktifitasnya disebut menongkah (Mut tiangan – dalam dialek Duanu atau Mud Ski atau Ski Lumpur).
Menongkah Kerang adalah teknik suku Duanu dalam menangkap kerang di padang lumpur. Kegiatan ini adalah dengan menggunakan sebilah papan sebagai tumpuan sebelah kakinya dan tempat mengumpulkan kerang yang telah didapatkan. Sementara sebelah kakinya lagi adalah sebagai pengayuh tongkah. Sebuah Tongkah biasanya terbuat dari belahan kayu besar dalam keadaan utuh, tetapi tidak jarang juga tongkah terdiri dari gabungan dari belahan papan. Panjang Tongkah rata-rata 2 M s/d 2,5 M dengan Lebar 50 Cm s/d 80 Cm dan ketebalan 3 Cm s/d 5 Cm.
Tongkah umumnya terbuat dari jenis kayu Pulai dan Jelutung dan lain-lain, kedua ujung Tongkah berbentuk lonjong (lancip) dan melentik keatas, hal ini dimaksudkan agar pergerakannya dapat lancar dan bila kurang melentik seringkali Tongkah menghujam atau menancap kedalam lumpur, bentuk Tongkah secara umum seperti papan selancar yang sering digunakan oleh olahragawan air (Peselancar).
Suku Laut atau Duanu
Aktifitas menongkah merupakan pekerjaan spesifik dari pada Komuntas Duanu dan dilakukan secara tradisional. Keberadaan menongkah pada umumnya tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Komunitas Duanu. Menurut catatan sejarah, keberadaan Orang Laut (Duanu) yang juga termasuk RAS PROTO MALAY (Golongan Melayu Tua) di Riau diperkirakan pada tahun 2500 SM s/d 1500 SM, dan pada masa Kerajaan Melaka – Johor kebeadaan Orang Laut (Duanu) sebagai orang kerahan pada tahun 1511 – 1528 dengan Rajanya Sultan Mahmudsyah I.
Gigih Tanpa Henti SARPAN Memperkenalkan Duanu dan Menongkah Kerang
“Masyarakat duanu itu pada umumnya adalah sebagai nelayan dan mereka adalah nelayan tangkap. Menjaring, merawai, dan menongkah dengan alat tangkap tongkahnya. Suku Duanu atau Suku Laut termasuk masyarakat yang berpindah-pindah atau nomaden, dari satu tempat ketempat yang lain dari satu pulau kepualau yang lain, dari satu ceruk ke ceruk yang lain dalam kerangka untuk memenuhi kehidupan mereka sebagai nelayan”. Ujar Sarpan selaku Ketu Panitia Penyelenggara dan Ketua Keluarga Besar Duanu Riau.
Menongkah itu adalah sebuah aktifitas unik, atau khusus yang dimiliki oleh masyarakat duanu atas pulaunya. Dalam rangka menangkap atau mencari kerang, khsusnya kerang darah atau kerang darat. Dan kekhusussan ini tidak dimiliki oleh komunitas-komunitas lain. dan ini hanya ada pada masyarakat duanu, dimana mereka menongkah dengan sekeping papan diatas hamaparan pantai yang sangat becek dan cukup licin sekali.
“Kebudayaan menongkah itu merupakan warisan budaya dunia. Dan kalau kita berbicara Indragiri Hilir sebagai kabupaten, Menongkah ini merupakan asli kebudayaan Indragiri Hilir. Dan harapan kita kebudayaan menongkah yang kita kemas dalam sebuah event ini bisa menjadi event wisata tahunan atau masuk didalam kalender wisata tahunan, baikKabupaten maupun Propinsi”. Kata sarpan lagi.
Jerman salah satu negara yang menyelenggarakan Olimpiade lumpur, itu sangat erat sekali hubungannya dengan kegiatan menongkah. Karena menongkah hamparannya juga pantai berlumpur.
Jadi kita berharap tongkah ini bisa juga dikenal oleh masyarakat dunia Internasional. Kalau mereka sudah dikenal masayarakat Internasional otomatis Duanu juga dikenal.
Masih dalam keterangan Sarpan, Duanu itu berharap harus ada kelestarian lingkungan terutama lingkungan untuk menongkah. Kalau lingkungan ini tidak dilestarikan, maka aktifitas menongkah ini sangat sulit sekali. Karena bisanya di Duanu untuk menongkah adalah untuk mendapatkan kerang yang banyak. Untuk saat ini sudah sedikit. Karena hamparan ini terganggu oleh alat tangkap aktif, sehingga tanahnya mengalalami degadrasi bergelombang-gelombang sehingga ini berpengaruh proses penangkapan dan terkait pada prosuksinya.
“Kita berharap Kehiatan ini dapat dilaksanakan setiap tahun, kita berharap kedepan festivasl seperti ini tidak hanya berdasarkan waktu tertentu tetai kita lakukan setiap tahunnya sehingga kita bisa sebaraluaskan keseluruh masayarakat indaragiri hilir propinsi riau bahkan di indonesia”. Edi Syafwannur selaku Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) yang mewakili Bupati Indragiri Hilir.
Dalam kesempatan ini Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Indragiri Hilir Drs. H. Mukhtar. T, MH akan mengembangkan lagi akan potensi wisata ini karena juga terdapat pesan-pesan moral.
“Untuk tahun yang akan datang kita akan coba kembangkan lebih besar lagi dan kita akan mengundang lebih luas lagi. Karena masyarakatnya sangat antusias. Kita ingin menyampaikan khususnya masyaralat duanu. Sesungguhnya yang ditampilkan tadi mengandung nilai-nilai dasar ada pesan-pesan moral yang terkandung didalamnya. Apa yang disampaikan itu adalah merupakan karya-karya yang luar biasa oleh orang-orang pendahulunya karena itu jangan sampai dilupakan dan teteap dilestarikan. Dan apa kandungan-kadnudngan yang ada didalamnya dikembangkan dalam kehidupan”.(ditulis dan diolah dari berbagai sumber)

Jumat, 23 Agustus 2013

MERDEKA ?

MERDEKA?
(Oleh: Kinoy, Ateng, Wati, Jony dan kru teater MäRGiN)

LAMPU MENYALA KE SATU ORANG
Orang1 : saudara-saudara sebangsa setanah air, hari ini adalah hari kta mengenang kemerdekaan bangsa Indonesia. Hari dimana Bung Karno Bung Hatta memproklamirkan kedaulatan dari kungkungan penjajah bangsa asing.
  Berjuta-juta pengorbanan, penderitaan dan perjuangan telah dilewati untuk mencapai hari yang bersejarah ini. Banyak sekali jiwa-jiwa orang Indonesia yang lepas untuk itu semua. Tapi sekarang, aku tak tahu lagi apa yang sebenarnya terjadi. Seakan-akan penjajahan dating lagi di Indonesia.(LAMPU PADAM)

LAMPU MENYALA KE ORANG YANG BERBEDA
Orang 2 : Bla bla bla…freedom bla bla bla independence. Inilah kemerdekaan Bung. Aku bisa bebas melakukan kreatifitas. Bernyanyi, Olah raga, baca puisai. Inilah aku apa adanya. Terima kasih Tuhan atas kemerdekaan ini.(LAMPU PADAM)

LAMPU MENYALA LAGI KE ORANG YANG BERBEDA
Orang 3 :Kemerdekaan?!Huh…!! Setiap orang mengagungkan agungkan kemerdekaan , padahal mereka tahu apa arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka melakukan sesuatu dengan kedok kemerdekaan. Padahal mungkin itu hanya bisa menjatuhkan orang lain. Apa itu ynga dimaksud kemerdekaan?
  Ya Tuhan…, kasihan sekali pahlawan-pahlawan , mereka memperebutkan kemerdekaan hanya utuk itu. Sungguh sia-sia sekali usaha mereka.(LAMPU PADAM)

LAMPU MENYALA
Orang1 : Aku sedih, kecewa dan marah , seakn-akan kita tidak menghargai pengorbanan yang dilakukan para pandahulu dan pahlawan kita.
Orang 2 : Kita sebagai generasi penerus bangsa dalam masa ini melakukan perjuangna dengan cara kita sendiri, mengharumkan nama bangsa dengan prestasi, dengan kreatifitas, dengan akal pikiran dan lain-lain. Ini waktunya kita sebagai sebagai generasi penerus bangsa untuk memberikaan jiwa dan raga kita pada Indonesia raya.
Orang 3 : memang sebenarnya Indonesia sudah merdeka, tapi kemerdekaan yang bagaiman yang sebenarnya kalian maksudkan? Kemerdekaan yang hanya bisa menjatuhkan orang lain? Yang hanya bisa merugiakan orang lain?
Orang 1 : Bagaimana tidak , bangsa tai kucing yang telah menjajah kita,tapi sekarang malah segalanya diagung-agungkan layaknya agama. Sekarang, hal yang berbau import atu asing sangat digandrungi oleh orang –orang Indonesia. Budaya, seni, music,mode dan hal-hal lainnya yang berasal dari luar negeri telah menggeser budaya kita. Apa itu kemerdekaan?
Orang 2 : Eh…eh… , hal yang berbau asing tak selalu membawa dampak negative. Misalnya teknologi, pengetahuan dsb. Itu membawa dampak positif bagi kita. Itu semua berguna bagi kita, mempermudah kehidupan kita semua.
Orang 3 : Dasar kalian manusia-manusia munafik, pembohong, egois dan serakah. Berdiri di belakan tameng kemerdekaan, kebebasan.
Orang 1 : Contohnya saja bahasa, sekarang bahasa asing seperti Inggris dan Jepang dijadiak sebagai patokan di semua lini kehidupan. Bangsa Indonesia lebih fasih menggunakan bahasa asing dibandingkan bahasa daerah bahkan bahasa Indonesia. Sampai-sampai dalam berhubungan dengan lawan jenis pun harus berbau import.
Orang 2 : Aku pikir dengan adanya arus globalisasi kita sebagai bangsa Indonesia harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Toh tidak merugiak siapa-siapa. Indonesia harus tetap eksis sebagi bagian dari dunia. Apa jadinya bila kita sebagai bangsa Indonesia tak brgaul dengan bangsa lain, mau jadi apa hah..!
Orang 3 : Apa iya? Kalian tahu infotainment-infotainment itu, dengan asas kebebasan pers, mereka dengan seenaknya mengumbar permasalahn rumah tangga orang.. lalu video-video porno itu, mereka bilang itu jug namanya kebebasan berekspresi, padahal itu hanya sebuah kelainan yang suka mempertontonkan tubuhnya. Dengan masih benyak kebebasan-kebebasan tidak wajar yang lainnya. Memang benar-benar hebat bangsa Indonesia mengartiakan kata kemerdekaan itu!
Orang 1 : Pokoknya ketika kita masih menomor satukan hal-hal yang berbau asing. Itu sebenarnya sama saja kita masih terjajah oleh bangsa asing itu. Titik!
Orang 2 : Meskipun aku mencintai music metal, mencintai Britney Spears, tapi jiwa dan ragaku tetap mencintai bumi pertiwi. Satu nusa satu bangsa, Bangsa Indonesia.
Orang 3 : Mengatas namakn agama dan kebencia akan suatu bangsa, mereka membunuh manusia, apa itu juga arti kemerdekaan? Hei…! Mau sampai kapan kalian seperti ini? Terus melakukan kebebasan yang salah kaprah! Kebebasan yang justru bisa merebut kemerdekaan orang lain!!! 

TIBA-TIBA MUNCUL SOSOK YANG BERBEDA
Orang 4 : Ha..ha..ha…
  Cukup-cukup!!
Aku sudah tak kuat lagi
TIDAK LAMA LAGI KITA AKAN MUSNAH!!!
Terus terang, aku tidak memikirkan hakikat apa yang sedang kalian bicarakan, karena aku masih terlalu polos…hahaha… ya polos. Yang jelas konteks dari permasalahan yang kalian ucapkan bukan sekedar dari apa yang kalian bicarakan. Tetapi ketika kita bisa tersenyum, dan itu merupakan cermin dari kita yaa…itulah kemerdekaan…Hahaha…
Aku telah kenyang, kenyang dengan bau bangkai kata-kata. Bingkai-bingkai omong kosong. Hura-hura euforia semu.
Aku benci keindahan kuda-kua pingitan, yang licin bulunya dan putih,hidup dari persediaan yang ada tanpa kita tahu dari mana semua itu datang. Ahahahahaha…hah
Aku ingin menghirup nafas dengan sebebas-bebasnya dan sebanyak-banyaknya. Saya buang semua semua pertanyaan-pertanyaan saya tentang apa yang sedang kalia bicarakan.
Bagiku… seharusnya kalian memahami waktu dan sejarah. Adilkah seorang merasa merdeka tanpa tahu proses apa telah terjadi? Tengik!
LAMPU PADAM

Kamis, 07 Maret 2013

SANGGAR SELASIH BAIDURI

PENAMPILAN : LANCANG KUNING TURUN GALANG

tokoh :
1. panglima umar (m.yogi sugiarto)
2. panglima hasan (m. anwar zuhdi)
3. zubaedah (lestari)
4. datuk laksemana (Reski saputra)
5. mak bidan (Vitriyah)
6. Tuk pawang (khairunissa)
7. pengawal (irianti)
8. nelayan (haliza dkk)

Lancang kuning berasal dari kata “lancang” (perahu kebesaran kerajaan) dan uning” (warna kebesaran kerajaan). Lancang Kuning adalah nama perahu besar kerajaan yang digunakan sebagai kendaraan air oleh raja-raja Melayu Riau. Adapun legenda atau cerita rakyat ini diangkat dari nama itu, karena legenda ini menceritakan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan kerajaan.

sinopsis :
panglima umar mendapat tugas pergi ke tempat batin tua singgoro meninggalkan sang istri zubaedah yang tengah hamil muda. kepergian panglima umar dimanfaatkan oleh panglima hasan dan pengawalnya untuk menjadikan tumbal. setelah pulang panglima umar melihat rumah telah porak poranda . lancang kuning telah turun galang tapi tak ada sedikitpun upacara pesta khanduri. kejadian ini membuat panglima umar bingung !

bertemulah panglima umar dengan panglima hasan, panglima hasan memfitnah datuk laksamana ! dengan marahnya panglima umar pergi ketempat datuk laksamana dan membunuhnya ! apa yang selanjutnya terjadi ? apa yang fitnah yang dilontarkan panglima hasan kepada datuk laksemana, sehingga panglima umar tega membunuh ? kita saksikan saja dalam pementasan LANCANG KUNING TURUN GALANG oleh kelompok TEATER SANGGAR SELASIH BAIDURI !

applause to :
1. ari anggara
2. ari musapia
3. ibu dwi lukita sari
4. pak andi herwin

DRAMA SI LANCANG (asal mula Tragedi Lancang Kuning) {8 pemain}


Si Lancang
 Tokoh:
 Lancang
 Emak
 Ustadzah
 Siti
 Istri 1
 Istri 2
 ABK 1
 ABK 2


Konon pade zaman dahulu hiduplah seorang wanite miskin dengan anak laki – lakinye yang bername si Lancang. Mereke berdue tinggal di sebuah gubuk reot di sebuah negeri bername Kampar. Ayah si Lancang telah lame meninggal dunie. Emak Lancang bekeje menggarap ladang orang lain, sedangkan si Lancang menggembalakan ternak tetanggenye.
Pade suatu hari, si Lancang betul – betul mengalami puncak kejenuhan. Die sudah bosan hidup miskin. Die ingin merantau dan mengumpulkan uang agar kelak menjadi orang kaye.

Lancang     : Emak, Lancang sudah tak tahan lagi hidup miskin macam ni. Lancang nak pegi merantau Mak!
Emak          : Ape? Nak merantau? Aduh, macam mane ye Nak…?
Lancang     : Ayolah Mak…! Izinkan Lancang merantau ye Mak…?
Emak          : Baiklah Lancang… Kau boleh merantau, tetapi… Jangan lupakan emak kau ni! Jike nanti kau
                     Sudah menjadi orang kaye, segeralah balik!
Lancang     : Benarkah Emak mengizinkan?
Emak          : Iye…
Lancang     : Wah terime kaseh Mak! Terime kaseh! Nanti saye pasti nak menjadi kaye raye! Dan saye tak nak gi bekeje sebagai pengembale yang membosankan tu!
Emak          : Hhh…
Lancang     : Janganlah bersedih Mak… Lancang tak nak melupakan Emak di sini… Jike nanti sudah kaye,
                     Lancang pasti balik Mak!
Emak          : Baiklah Nak. Besok pagi – pagi sangat kau boleh berangkat! Nanti malam Mak nak membuatkan lumping dodak tuk kau makan di perjalanan nanti.
Lancang     : Terime kaseh ye Mak…
Keesokan harinye…
Lancang     : Mak, Lancang pamit… Do’akan Lancang ye mak…
Emak          : Iye Lancang, Emak pasti nak mendoakan kau selalu! Ni lumping dodak tuk bekal kau di jalan!
Lancang     : Terime kaseh Mak… Lancang pegi… Assalamualaikum!
Emak          : Waalaikumsalam! Hati – hati nak!
Bertahun – tahun sudah Lancang di rantauan. Akhirnye die pun menjadi seorang pedagang kaye. Die memiliki puluhan kapal dagang dan ratusan anak buah. Istri – istrinye pun cantik – cantik dan berasal dari keluarge kaye pule. Sementare Emak si Lancang hidup miskin seorang diri di kampungnye.
Suatu hari Lancang nak mengajak istri – istrinye tuk pegi berlayar ke Andalas.
Lancang     : Wahai istri – istriku! Saye nak mengajak kalian tuk berlayar ke Andalas!
Istri 1dan2  : Hah? Benarkah Kakande?
Lancang     : Iye.
Istri 1          : Wah! Ni pasti nak menyenangkan! Kakande, bolehkah kami membawa perbekalan yang
                     banyak?  
Istri 2          : Iye Kakande, kami nak berpeste pore di atas kapal.
Lancang     : Tentu! Bawalah perbekalan sebanyak yang kalian mau!
Istri 1dan2  : Terime kaseh Kakande!
Istri – istri Lancang membawe begitu banyak perbekalan, mulai dari makanan hingga alat musik tuk berpeste. Mereke juge membawe kain sutre dan perhiasan yang banyak.
Sejak berangkat dari pelabuhan, seluruh penumpang kapal si Lancang berpeste pore. Mereke bermain musik dan bernyanyi sepanjang pelayaran. Hingga akhirnye kapal si Lancang merapat di Sungai Kampar, kampung halaman si Lancang.
ABK 1       : Hoi…! Kite sudah sampai!
Ustadzah    : Wah! Si Lancang rupenye! Die sudah jadi orang kaye!
Siti              : Megah betul kapalnye! Syukurlah jike die masih ingat kampung halamannye ni!
Ustadzah    : Sebaiknye kite beritahukan kedatangan Lancang ni kepade Emaknye! Beliau sudah begitu lame
                     menunggu kedatangan si Lancang.
Siti              : Betul Ustadzah! Mari kite beritahukan!
Di rumah si Lancang…
Ustdzh,Siti : Assalamualaikum!
Emak          : Waalaikumsalam! Oh, Ustadzah dan nak Siti! Mari, silakan masuk!
Ustadzah    : Tak usah Mak, terime kaseh. Kami kemari cume nak memberitahukan perihal kepulangan si
                     Lancang!
Siti              : Iye Mak! Lancang sudah balik, dan die sudah menjadi orang kaye!
Emak          : Betul tu? Alhamdulillah…! Akhirnye balik juge si Lancang! Terime kaseh atas kabarnye ye!
                     Saye nak menemui Lancang dulu!
Ustadzah    : Mari kami antar Mak!
Emak          : Ye, terime kaseh banyak.
Sesampainye di kapal…
Emak          : Subhanallah! Megah betul kapal ni! Saye nak naik dan menemui Lancang!
ABK 1       : Hai wanite buruk! Janganlah kau naik ke kapal ni! Pegi dari sini!
Emak          : Tapi… Aku adalah Emak si Lancang…
ABK 2       : Hah?! Mustahil Tuan Lancang punye emak macam kau! Pegi kau!
Lancang     : Ape perkare ni?! Ribut betul lah kalian!
ABK1dan2   : Ampun Tuanku…
ABK 2       : Begini Tuan… Wanite tue ni nak naik ke kapal dan die juge mengaku – ngaku sebagai ibu dari
                     Tuanku.
Istri 1          : Hah?! Benarkah wanite tue ni adalah ibu Kakande?
Istri 2          : Mengape selame ni Kakande tak pernah menceritakan tentangnye?
Lancang     : Bohong! Die bukan ibuku! Usir die dari kapalku!
Emak          : Oh, Lancang anakku! Aku adalah emakmu!
Lancang     : Manelah mugkin aku punye emak tue dan miskin macam kau!
Siti              : Apelah cakap kau ni Lancang! Beliau ni adelah emak kau! Tak sepantasnye kau cakap macam                        tu pade emak kau!
Ustadzah    : Istighfar Lancang! Istighfar!
Lancang     : Diam kalian! Jangan ikut campur urusanku! Dasar orang – orang kampung! Kelasi! Cepat                               usir mereke semue tu dari kapalku!    
ABK1dan2   : Pegi! Pegi kalian dari sini!
Emak          : Astaghfirullah!
Sesampainye di rumah Lancang…
Siti              : Masya’Allah! Kami tak menyangke Lancang nak menjadi macam tu!
Ustadzah    : Iye… Mak, yang sabar ye… Kami permisi dulu ye Mak.
Ustdzh,Siti : Assalamualaikum!
Emak          : Waalaikumsalam! Terime kaseh ye…
Emak lalu mengambil lesung dan nyiru pusake sambil berdo’a…
Emak          : Ya Allah… Si Lancang telah kulahirkan dan kubesarkan… Namun setelah kaye… Die tak mau
                     mengakuiku sebagai emaknye… Ya Allah, tunjukkan padenye kekuasaan-Mu…!
Dalam sekejap tibe – tibe angin topan berhembus dengan kencang. Petir menggelegar menyambar kapal si Lancang. Gelombang Sungai Kampar menghantam kapal si Lancang hingga hancur berkeping – keping. Semue orang di atas kapal tu berteriak kebingungan, sementare penduduk berlarian menjauhi sungai.
ABK 2       : Akh! Ade ape dengan kapal ni?!
ABK 1       : Aaaakh…!
Istri 1          : Ya Allah! Ade ape ni?!
Istri 2          : Astaghfirullah!
Lancang     : Emaaak…! Si Lancang anakmu pulang! Maafkan aku Mak…! Maafkan aku…!
Barang-barang yang ade di kapal si Lancang berhamburan dihempas badai. Kain sutra yang dibawe si Lancang dalam kapalnye melayang - layang. Kain tu lalu berlipat dan bertumpuk menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Sebuah gong terlempar dan jatuh di dekat gubuk Emak si Lancang di Air Tiris, menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan. Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang letaknye berdekatan dengan Danau si Lancang. Di danau itulah tiang bendere kapal si Lancang tegak tersise. Bile sekali waktu tiang bendera kapal si Lancang tu tibe - tibe muncul ke permukaan danau, make pertande akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Banjir itulah air mate si Lancang yang menyesali perbuatannye kerana durhake kepada Emaknye.
Selesai
 
Blogger Templates